jejekkriminal.com, Ciamis Jabar – Rencana revitalisasi Mess Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis menjadi penginapan umum mulai memunculkan berbagai respons dari masyarakat, salah satunya dari Forum Mahasiswa dan Pemuda Galuh Tabayyun (Formagat).
Di tengah berkembangnya isu perubahan nama mess milik pemerintah daerah tersebut, sejumlah kalangan mendorong agar identitas lokal tetap menjadi ruh utama dalam pengembangannya.
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) tengah menyiapkan revitalisasi Mess Pemda agar dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dan terbuka untuk masyarakat umum.
Langkah itu disebut menjadi bagian dari upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa membebani masyarakat melalui kebijakan yang memberatkan.
Sekretaris Jenderal Formagat, Fauzi Ridwan, SH., MH., mengatakan, perubahan wajah Mess Pemda sebaiknya tetap mempertahankan karakter budaya dan identitas khas Ciamis.
Menurutnya, modernisasi fasilitas tidak boleh memutus keterikatan historis dan kultural yang selama ini melekat pada daerah.
“Revitalisasi tentu langkah yang baik, apalagi jika tujuannya untuk meningkatkan PAD tanpa membebani masyarakat. Tetapi identitas daerah juga harus tetap dijaga. Jangan sampai modern secara konsep, tetapi kehilangan ruh Ciamisnya,” ujarnya.
Fauzi pun mengusulkan nama “Galendo” sebagai identitas baru Mess Pemda yang dinilai lebih dekat dengan karakter masyarakat Ciamis.
Ia menyebut, galendo bukan sekadar makanan khas, tetapi sudah menjadi simbol budaya yang melekat kuat dengan identitas Tatar Galuh.
“Kalau bicara Ciamis, orang pasti ingat galendo. Nama ini sederhana, mudah diingat, punya nilai historis, dan langsung merepresentasikan Ciamis,” katanya.
Menurut Fauzi, penggunaan nama Galendo justru memiliki nilai promosi yang kuat, terutama dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Ia menilai nama tersebut bisa menjadi branding yang lebih membumi sekaligus memiliki daya tarik bagi wisatawan luar daerah.
“Branding daerah itu penting. Ketika orang mendengar nama Galendo, mereka langsung tahu itu Ciamis. Itu kekuatan identitas yang tidak semua daerah punya,” jelasnya.
Ia juga berpandangan bahwa pengelolaan aset daerah dengan pendekatan bisnis merupakan langkah yang realistis di tengah tantangan fiskal pemerintah daerah saat ini.
Namun demikian, pendekatan ekonomi menurutnya harus tetap dibarengi dengan pelestarian budaya lokal agar pembangunan tidak kehilangan arah.
“Peningkatan PAD memang penting, tetapi akan lebih kuat jika dibangun dengan identitas budaya sendiri. Jadi bukan sekadar penginapan, tetapi juga menjadi etalase budaya Ciamis,” tambahnya.
Wacana perubahan nama Mess Pemda sendiri belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat, terutama setelah muncul rencana revitalisasi dan pembukaan layanan penginapan untuk umum.
Sejumlah pihak berharap perubahan tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga mampu memperkuat citra daerah melalui konsep yang mengangkat kearifan lokal.
Dengan usulan nama “Galendo”, publik kini menunggu arah kebijakan pemerintah daerah dalam menentukan wajah baru Mess Pemda Ciamis ke depan apakah sekadar menjadi penginapan, atau sekaligus simbol baru identitas daerah yang lebih modern namun tetap berakar pada budaya Galuh. (Hendi Pentil)