Garut Jejak-kriminal.com-Pelantikan lima Kepala Desa hasil Pemilihan Antar Waktu (PAW) oleh Abdusy Syakur Amin di Ruang Pamengkang, Senin (4/5/2026), bukan sekadar seremoni administratif. Momen ini berubah menjadi panggung peringatan keras: era kompromi dalam pengelolaan keuangan desa telah berakhir.
Di hadapan para pejabat dan undangan, Bupati Garut secara terbuka mengirim sinyal tegas kepada seluruh kepala desa—bahwa jabatan yang diemban bukan ruang aman untuk bermain anggaran, melainkan amanah yang diawasi publik dan dipertanggungjawabkan hingga ke hadapan Tuhan.
“Ini bukan sekadar jabatan, ini amanah. Jangan coba-coba mengkhianati kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Nada pidato Syakur tak lagi normatif. Ia secara gamblang menyinggung kebiasaan lama di tingkat desa: menjadikan keterbatasan anggaran sebagai dalih stagnasi, bahkan celah penyimpangan. Ia menuntut perubahan pola pikir—dari birokrat pasif menjadi pemimpin inovatif.
“Kalau anggaran terbatas, bukan berarti berhenti bergerak. Cari solusi yang sah dan halal. Desa butuh terobosan, bukan alasan,” ujarnya.
Pernyataan paling tajam muncul saat ia menegaskan kewajiban digitalisasi dan transparansi keuangan. Tidak ada lagi ruang abu-abu.
“Gunakan sistem digital resmi. Semua harus terbuka. Transparansi bukan pilihan—ini harga mati,” tandasnya
dengan nada tanpa kompromi.
Lima Kades PAW di Bawah Sorotan
Lima kepala desa yang baru dilantik kini berada dalam sorotan publik:
Jajang Risman – Pasirwaru
Kusdimay, S.Sos – Purbayani
Nova Wylian Sumaryo – Lewobaru
Bambang Yuniardi, SE., MM – Keresek
Dadang Sujana – Sindangsuka
Ekspektasi tinggi mengiringi pelantikan ini, seiring meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas dana desa.
FORWAGAS: Awasi, Jangan Sampai Terulang
FORWAGAS turut angkat suara. Ketua FORWAGAS menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya memberi ucapan selamat, tetapi juga akan mengawal kinerja para kepala desa secara kritis.
“Kami akan ikut mengawasi. Jangan sampai praktik lama terulang. Dana desa harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Figur dan Harapan Baru
Sorotan juga mengarah pada Kusdimay, S.Sos, yang dinilai memiliki rekam jejak birokrasi kuat. Dukungan datang dari Ade Burhan yang berharap
kepemimpinannya mampu membawa perubahan signifikan di Desa Purbayani.
Ujian Nyata Dimulai
Pelantikan ini bukan garis akhir, melainkan titik awal ujian. Di tengah sorotan publik dan tekanan transparansi, para kepala desa dituntut membuktikan satu hal: apakah mereka mampu menjaga amanah, atau justru mengulang pola lama yang selama ini menjadi sorotan.
Pesan dari pendopo Garut jelas menggema: jika transparansi diabaikan, konsekuensinya bukan hanya kritik—tetapi hilangnya kepercayaan publik.
(N.V)